Rahasia Shalat Tahajjud


Suatu malam Aisyah kehilangan Rasulullah ketika tidur, karena gelap ia sampai meraba-raba mencari beliau, sehingga tangannya menyentuh kedua telapak kaki beliau yang sedang tegak, karena tengah menjalankan shalat. Setelah selesai shalat Aisyah berkata,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan sampai seperti ini, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni?”. Beliau menjawab,”Wahai Aisyah, tidak patutkah aku menjadi hamba yang bersyukur Kepada-Nya?”.
Memang, Rasulullah hampir tak pernah meninggalkan shalat tahajjud dalam keadaan apapun. Perintah shalat lail turun ketika Rasulullah merasa sedih dengan permusuhan yang dilancarkan kaum kafir Quraisy kepada diri dan pengikutnya, dan sudah mulai tahap intimidasi. Dalam keadaan yang menyesakkan hati, maka Rasulullah menyandarkan semua perasaan yang menjepit dada pada Allah saat malam. Segala doa, keluh kesah semua dipanjatkan keharibaan-Nya saat seusai ruku’ dan sujud.
Dengan bertahajjud, seolah-olah memberikan kekuatan baru untuk mengahadapi permusuhan orang-orang kafir dengan lebih tegar, dan memperkokoh jiwa. Hudzaifah bin Yaman berkata,”Kebiasaan Nabi, jika menghadapi kesukaran segera melakukan shalat”. (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Namun Rasulullah melalukan shalat lain dalam dua hal, dalam keadaan lapang yang penuh syukur juga saat sempit.
Para sahabat, mengakui dengan Shalat tahajjud yang sudah menjadi kebiasaannya, akan melahirkan jiwa yang tenang, lebih mudah memecahkan masalah, menghadapi hidup dengan keteguhan dan tentu saja bersihkan diri hanya untuk bersandar kepada Allah. Abu Qatadah menjadi saksi para sahabat Rasul yang tenggelam dalam shalat malam. Ketika ia melewati rumah Abu Bakar ra, ia mendengarnya sedang shalat tahajjud dengan bacaan Qur’an yang suaranya kecil.
Begitu pula saat melewati rumah Umar bin Khathab, terdengar suara bacaan yang keras saat tahajjud. Lalu hal ini ditanyakan kepada Rasul, mana yang lebih benar? Rasulpun berkata, “Wahai Abu Bakar, keraskan suaramu sedikit, Wahai Umar, kecilkan suaramu sedikit”.
Kebiasaan tahajjud ini tidak hanya menular pada para sahabat saja, Istri Rasul pun juga demikian. Misalnya diriwayatkan Bukhari, suatu ketika Rasulullah memasuki masjid tiba-tiba melihat sebuah tali terjulur diantara tiang penyangga. Lalu beliau bertanya,”Tali apa ini?” Para sahabat menjawab,”Ini adalah tali milik Zainab, jika beliau merasa lelah (dalam shalat Tahajjud), maka beliau akan bergantung pada tali ini”.
Kemudian Rasul berkata,”Tidak, lepaskanlah tali itu. Hendaklah dari kalian melaksanakan shalat dengan kesungguhan. Jika merasa lelah, maka hendaklah tidur”.
Kisah ini memberikan isyarat bahwa tahajjud bukanlah shalat wajib, dalam kondisi tertentu yang tak memungkinkan seseorang melakukannya, misalnya lelah, sakit atau hal lain, maka hendaklah ia tidur atau beristirahat, sesungguhnya shalat malam ini bukanlah suatu yang memberatkan, bahkan sebaliknya ia hadir sebagai oase kerinduan pada sang Khalik.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pemimpin yang terkenal sangat zuhud dan adil itu, pernah membuat sedih istrinya lantaran bisa pingsan saat shalat tahajjud, saat ia membaca ayat,”Pada Hari itu (kiamat) manusia adalah seperti anai-anai berterbangan, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan”, Juga Imam Bukhari, beliau disengat lebah 17 kali, sampai tak menghiraukannya, karena khusuk bersama Sang Khalik.
Memang diharapkan setiap muslim dapat menjalankan Shalat Tahajjud disamping shalat-shalat wajib. Karena untuk menjalankan di era sekarang ini tidaklah mudah, seperti sebuah pertarungan sengit dalam jiwa, karena selalu ada godaan, dan rintangan ketika akan memulai shalat ini. Terganggu dari nyenyak tidur, sehingga sangat berat melakukannya, atau enggan dan malas menjalankannya.
Namun, bila keluar sebagai pemenang dalam pertempuran itu, maka yang didapatkan adalah ketenangan jiwa, rindu yang tak bertepi pada-Nya, keluar dari masalah berat yang menghimpit, juga sebagai sarana bersyukur atas nikmat yang tak terukur. Bahkan Shalahuddin Al-Ayyubi seorang panglima Muslim pada perang Salib, menjadikan shalat lail sebagai kunci kemenangan dalam perang. Memang banyak hal yang bisa kita petik di balik indahnya bertahajjud.
sumber: ummi-online.com